Yogyakarta — Program Educator's Academy LAZIS UNISIA Yayasan Badan Wakaf UII kembali menghadirkan kegiatan pengembangan kapasitas bagi para guru sekolah mitra. Kegiatan bertajuk “Berdamai dengan Emosi: Self-Care & Regulasi Emosi Guru” ini dilaksanakan di Gedung K.H.A. Wahid Hasyim, ruang kelas FIAI UII lantai 3, pada pukul 09.00–11.30 WIB.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 29 guru dari sekolah mitra LAZIS UNISIA YBW UII. Melalui kegiatan ini, para guru diajak untuk memahami pentingnya mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara tepat, terutama dalam menjalankan peran sebagai pendidik yang berinteraksi langsung dengan peserta didik.
Materi disampaikan oleh Moh. Mizan Habibi, S.Pd.I., M.Pd.I. Dalam pemaparannya, peserta diajak memahami bahwa kemampuan mengelola emosi merupakan bagian penting dari kesejahteraan guru. Guru tidak hanya dituntut untuk mengajar, tetapi juga perlu memiliki kemampuan menjaga kondisi diri agar tetap mampu menghadirkan suasana belajar yang positif bagi peserta didik.
“Guru perlu berdamai dengan emosinya sendiri. Ketika guru mampu mengenali dan mengelola emosinya, ia akan lebih mudah merespons berbagai situasi di kelas dengan tenang dan bijaksana. Self-care bukan bentuk keegoisan, tetapi bagian dari upaya menjaga kualitas diri agar dapat memberikan pendidikan yang terbaik,” ujar Moh. Mizan Habibi.
Selain pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi dan tanya jawab. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman serta mendiskusikan berbagai situasi yang berkaitan dengan pengelolaan emosi dalam proses pembelajaran.
Peserta juga mengikuti praktik ice breaking yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Aktivitas tersebut menjadi salah satu alternatif bagi guru untuk menciptakan suasana kelas yang lebih kondusif, menyenangkan, dan membantu membangun interaksi positif antara guru dan peserta didik.
Melalui Educator's Academy, LAZIS UNISIA YBW UII terus mendorong peningkatan kapasitas guru di sekolah mitra, tidak hanya dari sisi kompetensi mengajar, tetapi juga melalui penguatan aspek personal dan kemampuan menghadapi dinamika pendidikan.
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan bekal praktis bagi para guru untuk lebih memahami diri, mengelola emosi, serta menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan positif. Dengan guru yang mampu merawat dirinya dan mengelola emosi secara baik, proses pendidikan diharapkan dapat berlangsung dengan lebih bermakna bagi peserta didik.